Postingan

Menampilkan postingan dengan label hidup

Belajar Membagi Waktu

Gambar
 Sidoarjo, 23 September 2020 Sudah seringkali aku mengeluh tentang sulitnya membagi waktu. Sudah seringkali aku mengeluh tentang sulitnya menyelesaikan tugas dan tanggungjawab apalagi jika sudah menumpuk. Bingung rasanya harus mulai mengerjakan yang mana lebih dulu. Aku seringkali lebih memilih fokus menemani anak bermain saat ia sedang melek dan melakukan hal penting menunggu dia tidur. Tapi nyatanya semakin tumbuh besar, jam tidur anak akan semakin berkurang. Sekarang dia lebih sering menolak diajak tidur siang meski matanya terlihat sudah sangat mengantuk. Kadang aku juga memilih waktu malam hari setelah anak tertidur nyenyak, nyatanya aku ikut ketiduran bablas sampai pagi, lantas menyalahkan diri sendiri, kenapa nggak bisa bangun lagi di malam hari setelah menidurkan anak? Kadang pula aku bisa bangun tengah malam, memanfaatkan waktu melekku untuk menulis atau membaca hingga terasa lelah, namun siangnya badanku jadi terasa kurang fit karena jam istirahatku yang berkurang. Setiap...

[Resensi Buku #7] Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu

Gambar
Judul Buku : Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu Penulis : Bunda Novi atau Novi Istina Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Imprint Qibla Tahun Terbit : 2017, Cetakan Pertama Dimensi : ix + 230 hlm. Novi Istina dengan nama pena Bunda Novi , lulusan sarjana Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang, merupakan ketua Forum Lingkar Pena cabang Lumajang, Jawa Timur. Dalam kehidupan sehari-hari Bunda Novi berperan sebagai seorang Ibu, Istri dan Guru, selain itu beliau juga berkecimpung dalam amanah dakwah islam. Bunda Novi selalu mendengarkan lawan bicaranya dengan baik, meski hanya bicara dengan anak kecil, termasuk anaknya sendiri. Ia selalu  mencerna dan menelaah lebih dulu perkataan lawan bicaranya sebelum memberikan jawaban atau komentar yang positif. Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu , dari judulnya menurut saya sangat unik, saya pikir buku ini adalah sebuah novel, ternyata bukan. Buku ini berisi 4 bagian, setiap bagiannya berisi bab-bab yang ditulis seperti catatan harian yang cukup meng...

[Resensi Buku #6] Guru Aini - Andrea Hirata

Gambar
Judul Buku : Guru Aini Penulis : Andrea Hirata Penerbit : PT Bentang Pustaka Tahun Terbit : Februari 2020, Cetakan Pertama Dimensi : xii + 336 hlm. ; 20,5 cm Harga : Rp 94.150,- (harga promo + dapat gantungan kunci sepatu) "Mengajarimu matematika macam mengajari ayam mengeong!" bentak Guru Desi kalau sudah tak tahan menjejal-jejalkan ilmu ke dalam kepala Aini. Ai, matematika, mengapa kau sulit sekali?! Mengapa aku tak kunjung mengerti?! Dari manakah angka-angka ini bermula? Kemanakah mereka akan pergi?! Bab : Bagaimana Kau Bisa Lupa Sesuatu yang Kau Tak Pernah Tahu? hal.:170-171 Memang Andrea Hirata ini novelis handal dan berpengalaman, bisa-bisanya kisah seorang guru, murid dan pelajaran matematika bisa menjadi ide cerita yang menarik? Novel Guru Aini merupakan prekuel novel Orang-Orang Biasa. Prekuel adalah istilah yang masih asing bagiku sebelum mulai membaca novel ini. Prekuel  dalam karya sastra, drama dan film adalah sebuah karya yang ceritan...

Mengubah Cara Pandang

Gajinya sebagai seorang pegawai terlalu banyak untuk ia habiskan sendiri, kini saatnya ia membantu ekonomi orang lain. Bu Lina, seorang ibu muda, pegawai kantoran, memiliki seorang bayi berumur 1 tahun lebih 4 bulan, mempunyai pikiran yang cukup idealis, tapi lebih suka mengalah. Suaminya, pak Priya, seorang bapak muda, sangat mencintai ibunya, bertanggung jawab terhadap keluarga, sebenarnya lebih idealis daripada istrinya, tapi masih lebih fleksibel. Dari begitu banyak perbedaan antara pasangan suami istri ini, mereka memiliki kesamaan prinsip. Setiap ada masalah pasti ada solusi, gak usah pake ribut. Saat masih gadis, Bu Lina sudah mempunyai bayangan sendiri bagaimana ia akan menjalani kehidupan setelah menikah, berkaca dari kehidupan orangtuanya. Bu Lina yang akan menjadi istri, bekerja di kantor, tapi rumah dan anak-anak diurus sendiri, maksudnya hanya berdua sama suami. Sempat terbesit dalam benaknya, mungkin lebih enak kalo di rumah aja. Menjadi ibu rumah tangga, memb...

[Resensi Buku #2] Mimpi Itu Gratis

Gambar
Kalo bulan puasa gini, jalan ke mall pasti banyak yang nawarin diskonan. Apalagi baju-baju buat lebaran. Uuuuu ada yang ngasih diskon 20% , 50% , 70% , bahkan ada yang beli 1 gratis 2. Ngiler gak tuh? Tapi yaa sebanyak-banyaknya diskonan baju, paling murah yaa paling dapat 50ribuan satu. Segitu sih kemaren dapetnya, beli baju buat anak di Matahari, hihihi. Teruuuuuss ternyata Gramedia juga gak mau kalah dong bikin bazaar buku murah. Saya malah lebih ngiler nih pengen ambil semuaaa. Yaiyalah, harganya mulai 10ribuan. Baju diskonan 50ribu dapat satu, buku diskonan? 50ribu dapat banyaaaakkk. Uuuuu.. Nah, ini nih salah satu buku diskonan yang aku ambil. Check it out. Judul Buku : Mimpi Itu Gratis Penulis : AyuSha Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia Tahun Terbit : 2016 cetakan pertama Dimensi : x + 132 hlm Harga : Rp 10.000,- (harga bazaar siiisstt) Judulnya menarik buatku, makanya pas liat buku ini langsung aku ambil, apalagi di bazaar itu bukunya tinggal s...

Mencari Visi dan Misi Hidup

Malam ini aku menangisi diri sendiri. Untuk kesekian kalinya aku merasa tidak berguna, tidak ada yang bisa diharapkan apalagi dibanggakan dari diri yang bodoh dan hina ini. Diri yang selalu ingin bergantung pada orang lain. Diri yang selalu marah dan berontak ketika keadaan sekitar tak sesuai dengan apa yang diinginkan dan disukai. Diri yang hanya bisa memperhatikan dan mengomentari dengan iri dan dendam pada hidup orang lain, pada apa yang telah dicapai orang lain. Diri yang tidak mempunyai tujuan hidup. Menyedihkan sekali. Jadilah seseorang yang selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Barang-barang, kedudukan, jabatan dan lain-lain. Namun diri ini selalu merasa tak punya kekuatan untuk bersaing. Jadilah seseorang yang mudah menyerah, mengalah dan membiarkan diri apa adanya menerima keadaan. Dan malah tertawa ketika melakukan kesalahan. Dasar bodoh. Memang beberapa kali aku pernah memiliki prestasi, tapi entah mengapa aku merasa hampa dengannya. Untuk apa prestasi-p...