Postingan

Menampilkan postingan dengan label traveling

Hobi, Minat dan Passion

Gambar
Sejak 2013, sejak saya mengenal Whatsapp, saya mulai mengikuti komunitas dan kelas online . Mulai dari komunitas membaca Alqur’an, komunitas menghafal Alqur’an dan kelas bahasa Arab. Semakin ke sini saya semakin intens mengikuti komunitas dan kelas menulis yang dilakukan secara online juga tentunya. Yaa walaupun tidak semua dapat saya ikuti hingga tuntas. Saya juga sering berbagi pengalaman dalam bentuk tulisan baik itu di blog, di media sosial maupun dalam bentuk buku antologi. Kadang saya juga berbagi resep masakan di aplikasi Cookpad. Kadang ada yang nanya ke saya, “Kenapa sih Kak Bhilda melakukan hal-hal seperti itu? Kok sempet-sempetnya? Padahal sudah kerja, punya anak kecil, ngurus rumah tangga sendiri.” Yaa.. Suka aja. Sebenarnya banyak hal yang saya sukai, mulai dari memasak, travelling , bahasa asing, membaca buku, menulis dan lain-lain. Setiap orang pasti punya aktivitas yang disukai selain aktivitas utama sehari-hari. Source : unsplash.com Lalu, apakah hal yang kita sukai i...

[Travelogue #2] Terminal Bungurasih dan Bus P4

Hey Tayo Hey Tayo.. Dia bis kecil ramah.. Melaju.. Melambat.. Tayo selalu senang.. Anak kecil jaman now, bis dibilang tayo.. Hmm, gara-gara kartun. Eh bis apa bus sih? Ya pokoknya kendaraan yang itulah. Aku lebih senang nulis bus, tapi baca bis. Belum ngecek di-KBBI sih yang bener yang mana. Bayi 18 bulan-ku seneng banget kalo liat bus, terus dinyanyikan lagu tayo, hehehe.. Sekarang aku mau berbagi pengalaman naik bus berangkat dan pulang kantor. Dimulai dari sebuah terminal. Nama aslinya Terminal Purabaya, tapi orang-orang sering menyebutnya Terminal Bungurasih atau Bungur saja. Berdekatan dengan Bundaran Waru dan City of Tomorrow (Mall Cito) di sebelah utaranya, dan Stasiun Waru di sebelah timurnya. Terminal ini berada di perbatasan antara Surabaya dan Sidoarjo. Menyediakan bus yang melayani perjalanan ke berbagai tujuan, baik dalam kota maupun antarkota. Bus dalam kota biasanya mengantar para penumpang yang kebanyakan adalah warga Sidoarjo yang bekerja di Surabaya,...

[Travelogue #1-4] Transit - Reuni Dadakan

Sama seperti keberangkatannya, perjalanan pulang dari Bima tidak bisa langsung sampai Surabaya. Dari Bandara Sultan M. Salahuddin Bima kita harus naik pesawat selama 1 jam ke Bandara Internasional Lombok (BIL) terlebih dahulu. Setelah berganti pesawat di Lombok barulah kita bisa melanjutkan perjalanan selama 1 jam untuk bisa kembali ke Bandara Internasional Juanda Surabaya. Entah kenapa tidak ada penerbangan langsung Surabaya - Bima, mungkin karena belum begitu ramai masyarakat Surabaya yang mau berkunjung ke Bima. Tapi tak masalah, toh transit tidak harus selalu menunggu di bandara hingga bosan. Seperti waktu itu, untuk bisa kembali dari Bima ke kota Pahlawan, kami harus transit selama 6 jam di Lombok. Tidak sedikit pengalaman yang ku dapat. Suamiku, sebut saja Mas Bojo, sebelumnya sudah pernah berkunjung ke Lombok dalam rangka perjalanan dinas, pada akhir 2018. Namanya juga perjalanan dinas kan, apalagi bersama rombongan tentu tidak bisa bebas memilih tempat mana yang ingin diku...

[Travelogue #1-3] Bima NTB - Kereta Kuda dan Pak Kusirnya

Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuuuk Tuk tik tak tik tuk tik tak Suara sepatu Kuda 22 Nov 2019 Dua minggu berlalu, aku kembali menjalani aktivitas seperti biasa, sebagai pegawai yang banyak liburnya, hahaha.. Ya, dua minggu yang lalu aku di sana, untuk bisa menginjakkan kaki di kota itu saja aku tak pernah menyangka. Bagiku, sesederhana apa pun kenangannya, masih terus terngiang di kepala. Perbedaan yang paling terasa antara kota Bima dan kota tempat tinggal ku saat ini adalah, di sini penuh sesak kendaraan, sedangkan di sana kita bisa temukan hewan dan "jejak"nya di mana-mana. Ya seperti ceritaku tentang bayi yang mengejar kambing dan 3 ekor anaknya. Warga Bima memang terbiasa melepas begitu saja hewan peliharaan mereka. Jadi saat berkunjung ke kota Bima jangan heran kalo ketemu rombongan kambing atau sapi berkeliaran di jalan raya. Nah, kali ini tentang sebuah kendaraan tradisional, yang berkaitan dengan hewan, yang hingga saat ini masih eksis di Bima. ...

[Travelogue #1-2] Bima, NTB - Museum Asi Mbojo

Museum Asi Mbojo. Menurut bahasa asli, Asi adalah Istana, Mbojo artinya Bima. Untuk bisa sampai di Museum Asi Mbojo, kita hanya perlu menyeberang jalan ke arah Timur dari Lapangan Serasuba. Hari itu Jum'at pagi jam 8 WITA, pintu gerbang museum sudah terbuka, tapi gak ada yang jaga. Trus masuknya bayar gak sih? Terlihat di lapangan area museum banyak muda-mudi berpakaian putih-putih dengan sabuk putih juga, mungkin sedang latihan karate. Satu dua sepeda motor pun keluar masuk gerbang museum. Karena gak ada yang jaga, kami langsung masuk gerbang. Tampak bangunan kayu dominan di cat putih dengan model khas, terlihat di sekitarnya dikelilingi beberapa meriam kuno. Pintu depan bangunan itu baru dibuka, tapi kami tidak langsung masuk. Terlebih dahulu kami mendekat ke sebuah batu besar yang terletak lurus ke arah barat dari pintu masuk. Batu besar itu dilindungi atap daun. Seperti sebuah prasasti, mungkin salinan, berisi maklumat sang Sultan mengenai penyerahan kota Bima ke...

[Travelogue #1-1] Bima NTB - Jalan Raya Tepi Pantai dan Lapangan Serasuba

Bima, 10112019 Jalan raya tepi pantai, Mengejar Kambing di Lapangan Serasuba, Museum Asi Mbojo, Kereta Kuda Benhur dan pak Kusirnya, Kondangan Sahabat, Bayiku di Bima, Salome Goreng dan Oha Santa Pejo, Warung Sasak Tulen. Ternyata banyak hal yang bisa diceritakan dari perjalanan selama 3 malam di Bima. Tidak ada niat untuk berwisata ke sini, tujuan kami hanya untuk menghadiri acara pernikahan Sahabat. *** Dari Bandara M. Salahuddin Bima, kami dijemput kedua calon pengantin dengan Toyota Yaris putih melewati jalan raya tepi pantai. Sepanjang perjalanan di sisi kiri terlihat pantai yang sangat panjang berkelok-kelok, di sisi kanan bukit-bukit dengan pohon-pohon kering. Jalan raya beraspal itu mengikuti bentuk pantainya. "Mau jalan-jalan kemana aja kak?" "Belum tau nih mau kemana, enaknya kemana ya? Kalo pantai dimana yang bagus?" Jujur, sampai pertama kali menginjakkan kaki di Bima, kami memang belum mengatur jadwal keg...

[Resensi Buku #3] Baby Backpacker

Gambar
Judul Buku : Baby Backpacker Penulis : Annisa Rahmania Penerbit : Bhuana Ilmu Komputer Kelompok Gramedia Tahun Terbit : 2017 cetakan pertama Dimensi : 176 hlm Harga : Lupa ih, yang pasti ini buku belinya bareng Mimpi Itu Gratis, beli di bazaar buku Gramedia. Rp 15.000,- apa yaa kalo gak salah. Kok murah? Ya kan beli bazaar buku murah spesial ramadhan.. hihi.. Kesan pertama buka buku ini jd ingat buku yang pernah aku baca sebelumnya, Happy Little Soul karya mbak Retno Hening. Mirip-mirip kan, setiap halamannya full color. Bedanya Happy Little Soul dihiasi sama ilustrasi-ilustrasi gitu, sedangkan Baby Backpacker ini banyak real fotonya yg juga full color. Buku ini cocok banget buat para ibu yang punya anak masih bayi dan berencana ingin mengajak bayinya traveling (kayak saya, ehem..). Si mbak penulis ini keliatannya emang suka banget sama traveling sejak masih single. Abis nikah aja katanya sering traveling juga sama suami, mbaknya juga traveling pas lagi hamil alias bab...